Senin, 13 Juni 2011

MODEL MODEL PROSES KOMUNIKASI MASSA MALETZKE

Dalam beberapa studi dan model-model komunikasi massa, para peneliti menyisihkan satu atau kadang-kadang dua faktor untuk dijelaskan. Misalnya efek-efek tertentu terhadap tingkah laku. Ini dapat mengarah pada kesalahan kesimpulan, bahwa riset komunikasi massa sebaiknya dianalisa dengan menjelaskan satu atau dua faktor saja. Maletzke (1963), seorang ilmuwan Jerman menawarkan perspektif yang agak berbeda, dengan mengajukan “Schema des Feldes der Maasenkommunikation”. Model yang dibentuk secara metodis menyeluruh ini memperlihatkan komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara sosiologis dan psikologis dengan kompleks sifatnya. Karenanya, diperlukan penjelasan yang menyangkut berbagai faktor bukan hanya satu dua saja. Maletzke membuat modelnya dengan berdasarkan elemen-elemen “tradisional”, yaitu komunikator, isi pernyataan, medium dan komunikan. Tetapi diantara medium dan komunikan dia menambahkan elemen-elemen lain yaitu tekanan atau kendala dari medium, dan citra medium itu pada diri komunikan.
Dalam hal tekanan atau kendala medium, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ada perbedaan jenis adaptasi oleh komunikan terhadap media yang berbeda-beda pula. Setiap medium ada kelebihan dan keterbatasannya dan sifat-sifat medium haruslah dianggap mempunyai pengaruh terhadap cara komunikan menggunakannya dan sejauh mana isi medium tersebut. Misalnya, kita sulit memahami sebuah drama yang dimainkan di televisi dengan cara yang sama jika drama tersebut dimainkan di radio. Ungkapan “medium is the message” McLuhan (1964) yang sering dikutip, menunjukkan betapa seriusnya peran medium dalam hubungannya dengan isi pertanyaan. Dalam konteks ini, Maletzke menyatakan hal-hal yang relevan untuk dibicarakan, yaitu :
1. Jenis persepsi yang dituntut dari pihak komunikan (pemirsa, pembaca, dan sebagainya)
2. Sejauh mana komunikan terikat dengan medium secara ruang dan waktu
3. Perbedaan waktu antara peristiwa dengan konsumsi pesan tentang peristiwa tersebut.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur komunikasi yang terlibat didalam proses komunikasi dalam sebuah artikel yang berjudul Penggelumbungan Ekonomi, ditulis oleh Thoby Mutis (Rektor Universitas Trisakti) dan di terbitkan harian Seputar Indonesia tanggal 21 Maret 2007 berdasarkan teori model proses komunikasi massa Maletzke sebagai salah satu tugas prasayarat mata kuliah Desain Pesan Komunikasi Pembangunan.
PEMBAHASAN


Artikel yang berjudul “Penggelembungan Ekonomi” oleh Thoby Mutis (Rektor Universitas Trisakti) secara garis besar menjelaskan tentang persoalan penggelembungan ekonomi yang tidak mencermnkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Dimana keadaan ini seringkali dapat menghancurkan pergerakan ekonomi riil suatu bangsa.
Dari artikel ini, akan dibahas secara mendalam unsur-unsur komunikasi dan faktor-faktor kemunculan dari masing-masing unsur yang terlibat di dalam proses komunikasi yang meliputi source atau communicator, pesan (message) yang disampaikan, medium dan receivernya.

SOURCE (COMMUNICATOR)
Komunikator dari artikel ini adalah seorang ahli ekonomi yang juga mempunyai jabatan tertinggi di Universitas Trisakti. Thoby Mutis dalam tulisannya mengupas secara mendalam tentang penggelembungan ekonomi, pemilihan tema ini disesuaikan dengan kapasitas keilmuannya sebagai ahli perekonomian. Hal ini sesuai dengan teori maletzke dimana dikatakan bahwa seorang komunikator dalam proses komunikasi massa, sebagai aturannya lebih banyak memperoleh materi isi pernyataan yang potensial daripada yang akan disampaikannya.
Seorang komunikator harus memilih dari keseluruhan materi yang akan diperolehnya dengan kriteria tertentu. Dalam hal ini, Thoby memilih materi yang ditulisnya berdasarkan pada isu yang berkembang di kalangan masyarakat saat ini yaitu maraknya penggelembungan ekonomi yang secara tidak sadar dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penulisan artikel ini juga dipengaruhi oleh citra diri dan organisasi serta lingkungan sosial Thoby sebagai komunikator yang berlatarbelakang kaum akademisi dan keilmuan khusus di bidang ekonomi. Sehingga Thoby dapat menuangkan apa yang ada dalam pikiran dan hasil researchnya untuk diinformasikan kepada publik. Agar pesan yang ingin disampaikannya dapat diterima khalayak luas maka penyampaian pesan melalui media massa merupakan salah satu cara yang tepat.
Ketika menetapkan bagaimana caranya menyusun dan membentuk isi pernyataan komunikator dihadapkan pada situasi pemilihan. Bagaimana seorang komunikator melakukan seleksi dan membentuk isi pernyataan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :
1. Tekanan atau Kendala Dari Isi Pernyataan
Seorang komunikator harus menyesuaikan bentuk isi pernyataan dengan jenis isi yang dikandungnya. Sebuah laporan dari pemahaman dapat juga dianggap sebagai bagian kolom gosip. Sebuah isi pernyataan dapat juga dianggap sebagai bagian dari keseluruhan apa yang disampaikan. Pemberitaan yang disusun secara khusus agar cocok untuk menjadi bagian dari keseluruhan program pemberitaan.
2. Tekanan atau Kendala Media
Setiap medium menyajikan kombinasi kendala dan kemungkinan kepada komunikator. Seorang jurnalis surat kabar dan jurnalis televisi menghadapi kondisi observasi yang berbeda dalam melaporkan satu kejadian yang sama.
3. Citra Diri Komunikator
Faktor ini tidak semata-mata merupakan bagaimana komunikator memandang dirinya sendiri sebagai komunikator, tetapi juga apakah ia menganggap dirinya sebagai interpreter suatu kejadian, seorang pejuang ideologi tertentu atau hanya cermin bagi kejadian-kejadian, dan apakah ia berpendapat peran profesionalnya kemungkinan ia menyampaikan nilai-nilai yang dianutnya atau tidak.
4. Struktur Keribadian Komunikator
Maletzke berpendapat bahwa kepribadian mempengaruhi tingkah laku komunikator.
5. Komunikator Dalam Kelompok Kerja
Seorang komunikator massa jarang bekerja sendirian, melainkan ia tergantung rekan-rekannya dan para spesialis di sekelilingnya. Inilah yang membedakan jurnalis dengan novelis. Kebebasan komunikator massa, karena ia bekerja dalam satu kelompok dibatasi oleh norma-norma dan nilai-nilai kelompok tersebut.

6. Komunikator Dalam Organisasi
Organisasi media massa berbeda-beda dalam hal besarnya organisasi itu, tujuan, jenis pemilikan dan kebijaksanaannya. Kesemuanya ini merupakan faktor penting bagi seorang komunikator. Mengenai kebijaksanaan, beberapa peneliti organisasi media massa telah melihat bahwa seorang jurnalis dapat saja memiliki kepercayaan dan sikap yang bertentangan dengan organisasinya, yang kemudian memaksa si jurnalis untuk mengikuti aturan-aturan yang implisit maupun eksplisit. Namun, komunikator juga memiliki kemungkinan untuk berusaha menyesuaikan diri dengan kebijaksanaan tersebut.
7. Tekanan dan Kendala Yang Timbul Dari Karakter Publik
Bagi isi media yang bersangkutan, kenyataan bahwa kegiatan produksi komunikator media massa terbuka untuk diawasi oleh publik, menimbulkan kendala-kendala tertentu terhadap kegiatan komunikator itu, baik dari segi psikologis maupun dari legalnya. Seringkali ada kontrol dalam tingkatan tertentu dilakukan lembaga-lembaga profesional.
8. Lingkungan Sosial Komunikator
Komunikator dalam melakukan pembentukan isi pernyataan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, bukan hanya oleh yang terlembaga pada kelompok kerja dan organisasinya saja.

PESAN ( MESSAGE )
Setelah kita membahas tentang komunikator dalam proses komunikasi model Maletzke ini, maka unsur selanjutnya adalah pesan (message). Pada artikel ini Thoby membahas tentang penggelembungan ekonomi.
Pesan ini tersampaikan dilatarbelakangi oleh isu yang berkembang di masyarakat dimana orang-orang banyak mempersoalkan penggelembungan ekonomi karena tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Pada artikelnya ini, Thoby membahas 12 hal penggelembungan dalam lingkup ekonomi, untuk memperkuat pesannya tersebut agar dapat diterima komunikan Thoby melengkapi tulisannya dengan menambahkan referensi-referensi lain dari ahli ekonomi dunia. Melalui pesan ini, Thoby sebagai komunikan menjabarkan kasus-kasus penggelembungan ekonomi yang terjadi di dalam maupun di luar negeri yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Diharapkan melalui pemikirannya ini masyarakat dapat memahami bagaimana proses penggelembungan ekonomi itu terjadi dan bagaimana akibat yang akan terjadi apabila kondisi ini terus menerus terjadi.

MEDIUM
Medium yang dimaksudkan dalam teori ini adalah media massanya. Maketzke menempatkan elemen-elemen tekanan atau kendala dari medium dan citra medium pada diri komunikan diantara proses medium dan komunikan.
Dalam hal tekanan atau kendala medium, dihadapkan pada kenyataan bahwa ada perbedaan jenis adaptasi komunikan terhadap media yang berbeda. Setiap medium ada kelebihan dan keterbatasannya, dan sifat-sifat medium haruslah dianggap mempunyai pengaruh terhadap cara komunikan menggunakannya dan sejauh mana si medium tersebut.
Citra medium yang ada pada komunikan menimbulkan harapan-harapan tentang isi medium tersebut, dan karenanya harus dianggap punya pengaruh terhadap cara komunikan memilih isi medium tersebut. Gengsi dan kredibilitas medium merupakan elemen-elemen dari citra tersebut.
Harian Seputar Indonesia merupakan salah satu media yang memiliki kredibilitas cukup baik di mata masyarakat meskipun harian ini belum lama muncul dibandingkan kompetitor besar lainnya. Tetapi karena satu manajemen dengan program berita Seputar Indonesia di stasiun TV RCTI maka harian ini sudah punya tempat tersendiri di masyarakat. Sehingga tidaklah mengherankan saat awal kemunculannya, harian ini sudah berhasil menyaingi kompetitor besar lainnya seperti Kompas dan Media Indonesia. Image yang dibangun oleh media ini berhasil mempengaruhi komunikannya ditunjang dengan nilai informasi yang diberikan media ini membuat komunikator dan komunikan memilih media ini sebagai penghubung penyampaian pesan agar komunikasi efektif dan tepat sasaran.



RECEIVER (KOMUNIKAN)
Komunikan yang dimaksud disini adalah konsumen harian Seputar Indonesia yang membaca artikel Thoby Mutis tersebut. Dalam hal ini komunikan dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut :
• Citra Diri Komunikan (Self Image)
Merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, peranan, sikap, menciptakan sebuah disposisi dalam menerima isi pernyataan, penelitian-penelitian psikologi-sosial, misalnya telah memperlihatkan bahwa komunikan cenderung menolak informasi yang tidak sama dengan nilai-nilai yang dianutnya. Tidak menutup kemungkinan pada artikel yang ditulis Thoby ini ada komunikan yang menolak pesan atau bahasan yang disampaikan karena perbedaan nilai atau pandangan. Dan ada komunikan lain yang menerima pesan tersebut dan menjadikan tulisan tersebut sebagai referensi tambahan. Hal tersebut menjadikan pesan yang disampaikan Thoby efektif karena adanya feedback.
• Struktur Kepribadian Komunikan (Personality Structure)
Ahli-ahli psikologi sosial seringkali menganggap bahwa ada orang-orang dengan kategori tertentu yang lebih mudah dipengaruhi daripada orang lainnya. Dinyatakan bahwa orang yang punya harga diri (self-essteem) rendah lebih mudah dibujuk. Dan ini seringkali terjadi pada proses komunikasi massa. Komunikan yang memiliki wawasan sempit akan lebih mudah untuk dipengaruhi atau menerima bahasan artikel Thoby tetapi komunikan yang wawasannya luas besar kemungkinan sulit untuk dipengaruhi.
• Konteks Sosial Komunikan (Social Environment)
Pada faktor ini bisa berupa masyarakat di sekitarnya, komuniti dimana si komunikan tinggal, kelompok yang diikutinya atau juga orang-orang yang berhubungan dengannya. Pentingnya peran kelompok ini telah pernah diteliti oleh para pelajar komunikasi. Semakin yakin seseorang bahwa dia adalah anggota sebuah kelompok tertentu, semakin kecil kemungkinan dia terpengaruh oleh isi pernyataan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut kelompok tersebut.
Maletzke juga menyatakan bahwa “pencipta pendapat (creator of opinion)”, lewat mana isi media massa biasanya disaring sebelum sampai pada komunikan, seringkali berada di lingkungan sosial komunikan yang terdekat, misalnya komuniti lokal tempat dia tinggal.
• Komunikan Sebagai Anggota Publik (Member of the Audience)
Situasi waktu menerima isi pernyataan pada komunikasi massa berbeda dengan pada komunikasi tatap muka. Sebagai anggota dari massa publik yang tidak terorganisir, seorang komunikan tidak menghadapi tuntutan yang besar untuk menanggapi atau melakukan tindakan-tindakan tertentu seperti dia melakukan komunikasi tatap muka. Situasi waktu menerima isi pernyataan dapat mempengaruhi pengalaman komunikasi. Dalam hal ini, pada saat komunikan menerima isi pesan yang disampaikan Thoby lewat tulisannya berada di lingkungan kerja akan berbeda situasinya dengan pada saat berada di rumah. Dimana akan terjadi diskusi panjang membahas isi pesan tersebut apabila berada dengan rekan-rekan di lingkungan kerja, sedangkan dirumah diskusi akan terbatas bahkan besar kemungkinan tidak akan terjadi diskusi.

Secara garis besar keefektifan proses komunikasi yang berlangsung dari unsur-unsur komunikasi yang telah dibahas sebelumnya pada Model maletzke ini, berisi faktor-faktor sebagai berikut :
• Citra dalam diri komunikan terhadap satu sama lainnya
Sewaktu menciptakan isi pernyataan atau pesan, komunikator memiliki gambaran tentang komunikan, walaupun yangterakhir ini tidak hadir atau berada didepannya secara fisik. Bagi komunikator massa, muncul masalah-masalah tertentu karena audiensnya bersifat heterogen dan anonim (tidak dikenal), dan karena umpan balik yang ada tidak memberikan gambaran yang memuaskan tentang bagaimana keadaan audiens tersebut. Keadaan yang seperti ini akan mengurangi keefektifan komunikasi.
Citra medium bagi komunikan sangat penting artinya bagi pemilihan dan pengalaman memakai media itu. Seringkali komunikan sulit membentuk gambaran komunikator di kepalanya, tetapi dalam hubungannya dengan medium, komunikan dianggap terpengaruh, misalnya oleh faktor kredibilitas. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah apakah komunikan beridentifikasi terhadap komunikator dan nilai-nilai yang dianutnya atau tidak.
• Umpanbalik spontan dari komunikan
Komunikasi massa dianggap proses satu arah (linier), karena proses ini hampir selalu tidak memunculkan umpanbalik spontan seperti yang ada pada komunikasi tatap muka. Seperti telah dibahas sebelumnya, ketiadaan umpanbalik yang demikian ini merupakan sebab kenapa komunikator seringkali tidak memiliki gambaran yang tepat tentang audiensnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar